Jl. Margakencana Utara – Margawangi Bandung

Shalat adalah salah satu dari Rukun Islam yang merupakan satu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan walaupun dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan ataupun hal lainnya.

Sabda Rasul : “Shalat itu adalah tiangnya agama”. (Asholaatu imaduddin)

Bila seseorang sudah meninggalkan shalat, maka ia dinilai “kufur”. Hal ini ditegaskan Nabi Saw dalam sabdanya;
“Antara seorang hamba dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. (HR. Muslim)

Nabi Saw tidak menshalatkan orang yang mati yang ketika hidupnya tidak shalat. Di akhirat nanti Allah Swt berfirman tentang keadaan orang yang berdosa:

“Apakah yang menyebabkan kamu masuk neraka saqar?”. Mereka menjawab;”kami dahulu termasuk orang-orang yang meninggalkan shalat”.
(Qs. Al Mudatsir 41-43)

Bagi orang yang sedang safar atau dalam perjalananpun hanya ada rukshah atau kelonggaran untuk men-jama atau meng-qashar shalat. Demikian juga bagi orang yang sakit hanya ada kelonggaran dalam rukun shalat, seperti shalat yang mestinya berdiri tapi karena tidak mampu, maka boleh dilakukan sambil duduk atau berbaring. Bahkan orang yang sedang berperang sekalipun tidak boleh meninggalkan shalat, yaitu dengan adanya shalat khauf.

Shalat yang lima waktu tersebut jangan sampai ditinggalkan, misalnya shalat Ashar dengan alasan sibuk bekerja, rapat, pesta dsb, maka kita akan mendapat peringatan dari Nabi Saw:
“Barangsiapa yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja, maka hancur segala (pahala) amalnya”.

Dalam riwayat lain diterangkan,
“Barangsiapa yang meninggalkan shalat Ashar, ia seperti orang yang dirampok hartanya dan diculik keluarganya (tidak punya apa-apa)”. (HR. Bukhari)

“Sedangkan bagi orang yang tertidur atau yang terlupa shalat, maka hendaknya ia melaksanakan shalat pada saat ia bangun atau pada saat ia ingat”. (HR. Bukhari Muslim)

Akan tetapi mengapa Allah mengatakan dalam Qs. Al Maa’uun 4

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat”.

Ayat ini tentu saja merupakan sebuah peringatan bagi orang yang shalat, bahwa shalat itu tidak sekedar dilaksanakan.
Kita sering mendengar peryataan-pernyataan; jangan terlalu mempermasalahkan soal sepele dan furuiyyat, yang harus dipermasalahkan adalah orang yang tidak mau shalat.
Pernyataan seperti itu tentu sulit diterima seluruhnya, sebab berdasarkan peringatan Allah dalam QS. Al Maa’uun ayat 4 tersebut, ternyata bukan hanya orang-orang yang tidak shalat yang celaka, tetapi orang yang biasa shalatpun bisa celaka.

Ada dua variable yang menjadi penyebab orang yang shalat bisa celaka, yakni yura’un (riya) dan sahun (lalai).
Riya yang oleh Nabi Saw disebut dengan syirik al ashgar (syirik kecil) adalah kebalikan dari ikhlas. Riya merupakan variable pertama penyebab tidak diterimanya shalat seseorang, sebab tidak ada satu amalpun yang diterima oleh Allah tanpa keikhlasan.

Allah berfirman:

“Dan jika kamu berbuat syirik, maka terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (Az Zumar 65)

Nabi Saw juga mengingatkan:
“Janganlah kamu campuradukkan antara ketaatan kepada Allah dengan keinginan untuk mendapat pujian manusia, nanti hancur amalmu”.
(HR. Ibnu Hibban)

Firman Allah dalam QS. Al Bayyinah ayat 5

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat…”
Lurus berarti jauh dari syirik dan jauh dari kesesatan.
Variable kedua adalah sahun, yang bisa bermakna lalai. Ketika seseorang sedang melaksanakan shalat, pikiran dan hatinya tidak konsentrasi (tidak khusyu), ia tidak sadar bahwa ia sedang shalat, hal itu karena godaan syetan pada dirinya.
Nabi Saw mengingatkan:
“Apabila dikumandangkan adzan, syetan lari terbirit-birit bahkan terkentut-kentut sampai ia tidak mendengar adzan itu. Apabila adzan selesai syetan datang lagi dan apabila dikumandangkan iqamat, syetan lari lagi dan apabila selesai iqamat, syetan datang lagi dan menyelinap kedalam jiwa manusia dan berkata:”Ingatlah kamu kesana, ingatlah kamu kesini”, sehingga orang itu tidak tahu lagi berapa rakaat ia shalat”. (HR. Bukhari)

Sahun juga bisa bermakna melalaikan aturan tata laksana shalat, tidak mengikuti contoh yang ditunjukkan oleh Nabi Saw. Sebagaimana yang diintruksikannya,
“Shalatlah kamu seperti kalian mendapatkan aku shalat”. (HR. Bukhari)

Tidak sedikit orang yang hanya berprinsip dalam soal niat “yang penting ibadah itu ikhlas”, tanpa mau memperhatikan atau mempedulikan masalah kaifiyyat. Masalah kaifiyyat shalat sering dianggap sepele, padahal Allah Swt telah mengingatkan kita dalam firman-Nya,

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih”. (Qs. An Nur 63)

Nabi juga mengingatkan dalam sabdanya,
“Hendaklah kamu takut jika kamu mengangkat kepala mendahului imam, Allah akan mewujudkannya di akhirat sebagai keledai”. (HR. Bukhari)

Hadits ini memberi peringatan kepada kita, bahwa meskipun seseorang melaksanakan shalat berjamaah yang nilainya jelas lebih utama daripada shalat munfarid/sendiri tetapi kalau ia tidak mengikuti kaifiyyat shalat berjamaah menurut petunjuk Nabi Saw, bahwa imam itu mestinya diikuti jangan didahului, di akhirat nanti bisa menjadi manusia yang merugi!.

Shalat merupakan ibadah yang pertama kali dihisab di akhirat kelak, Sabda Rasul Saw;
“Awwalu maa yuhaasabul abda alaihi ashshalatu”
Shalat juga bisa dijadikan barometer amal-amal yang lain. Khalifah Umar Ibnu Al Khatab diriwayatkan pernah mengirim surat kepada para gubernur yang diangkatnya. Didalam pesannya umar menyatakan:
“Sesungguhnya tugas kalian sebagai gubernur yang paling utama di mataku adalah shalat. Barangsiapa memelihara shalat, berarti ia telah memelihara agamanya, barangsiapa lalai terhadap shalat, terhadap urusan yang lain akan lebih lalai”.

Shalat yang baik dan benar dijanjikan Allah dan Rasul-Nya akan menjadi penghapus atas segala dosanya. Allah berfirman,

“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada permulaan malam, sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk”. (Qs. Hud 114)

Dalam sebuah dialog dengan para sahabatnya, Nabi Saw mengumpamakan shalat yang lima waktu seperti mandi lima kali.

Nabi Saw bertanya:”Bagaimana pandanganmu jika pintu rumah salah seorang diantara kamu ada sumur, lalu mandi sehari 5x, bagaimana kotoran di badan orang itu?”, para sahabat menjawab:”Tidak akan tersisa kotoran itu sedikitpun”.
Nabi Saw bersabda:”Demikian juga perumpamaan shalat yang lima waktu, Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya”. (HR. Bukhari)

Namun mandi yang bagaimana yang akan mempu membersihkan kotoran di badan itu?, jika mandinya tidak bersabun, tidak menggosok-gosok badan, bahkan airnya diobok-obok dibuat keruh, tentu hal itu bukan membersihkan kotoran di badan. Demikian juga halnya shalat, jika dilaksanakan dengan riya atau tidak ikhlas, tidak khusyu, lalai, apalagi tidak mengikuti aturan shalat yang benar, tentu shalat itu tidak akan menjadi penghapus dosa, tetapi sebaliknya akan menambah dosa.

Oleh karena itu usahakan shalat kita betul-betul mengikuti (mencontoh) shalatnya Rasulullah Saw dan dilaksanakan dengan penuh keikhlasan serta kekhusyuan. Jadikanlah shalat itu sebagai kebutuhan kita dalam hidup ini.

Oleh sebab itu mari kita bersama-sama memeriksa lagi shalat kita masing-masing. Apakah shalat kita sudah sesuai belum dengan shalat Rasul, supaya shalat kita betul-betul menjadi tiangnya agama serta nanti kalau dihisab mendapat hisaban yasiro / hisaban yang enteng.

About these ads

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: