Jl. Margakencana Utara – Margawangi Bandung

Firman Allah di dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah 177 ;

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat , kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya , anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir ( yng memerlukan pertolongan ) dan orang-orang yang meminta-minta, dan ( memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang- orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”

Dari ayat itu dapat disimpulkan bahwa kebajikan itu adalah :

Pertama; Beriman kepada Allah.

Kita harus yakin bahwa siang dan malam kita ini diurus dan diawasi oleh Allah. Seperti yang diungkapkan Surat Al Baqarah 255:

“ Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (mahluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit da di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya ? Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar “.

Kedua; Percaya kepada malaikat

Setiap manusia dijaga oleh malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya siang dalam malam bergiliran. Yakini bahwa Allah mengutus malaikat-malaikat-Nya untuk menjaga kita dari muka dan dari belakang atas perintah Allah. Merekapun mencatatkan baik perbuatan dosa maupun perbuatan baik kita. Bagi mereka, tidak ada istilah tutup buku, lupa atau berbagai alasan lainnya untuk tidak mencatat amalan kita. Percaya kepada malaikat –malaikat itu menimbulkan kewaspadaan kita dalam bertindak, kita harus waspada bahwa ada yang mencatat amal perbuatan kita.

Ketiga; Percaya kepada kitab-kitab

Sebagai umat Islam, kita diwajibkan percaya kepada Al Qur’an, kita harus percaya bahwasannya Al Qur’an itu tidak ada tandingannya,. Al Qur’an adalah pedoman dan penerangan supaya kita bahagia baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Bila kita ingin bahagia di dunia dan di akhirat, maka kajilah dan bacalah Al Qur’an dengan benar dan amalkan segala isi yang terkandung di dalammnya. Jangan sampai kita lebih mengutamakan bacaan yang lain selain daripada membaca Al Qur’an. Kita merasa ketinggalan zaman ketika sehari saja tidak membaca koran atau mendengar berita dari televisi, tetapi kita tidak pernah merasa rugi, ketika sehari saja kita tidak membaca Al Qur’an.

Jadi percaya kepada kitab itu dengan cara meyakini bahwa tidak ada saingan dari kitab Al Qur’an yang diturunkan oleh Allah ini. Inilah yang Maha Penting, Maha Benar, inilah Al Qur’an kebenaran dari Allah, oleh karena itu harus selalu dinomorsatukan untuk dibaca, dikaji, diyakini dan diamalkan seikhlas-ikhlasnya. Jangan sampai Al Qur’an hanya menjadi pajangan di atas lemari. Bacalah selalu Al Qur’an itu, kajilah, tumbuhkanlah rasa ingin tahu terhadap isi Al Qur’an.

Keempat : Percaya kepada para Nabi

Allah menurunkan Nabi-nabi untuk menyebarkan syariat Allah kepada manusia. Kita pun harus mempercayai, bahwa apa yang dilakukan oleh rasul itu harus dilakukan oleh kita. Kita harus meniru akhlak Rasul, meniru cara ibadah rasul. Percaya kepada para nabi, bukan hanya percaya tetapi harus diwujudkan di dalam kehidupan kita. Kepercayaan kita kepada rasul itu harus tergambar dan tercermin dalam kehidupan kita, demikianlah iman yang sebenarnya.

Kelima : Memberikan harta yang dicintainya

Mengapa harus kerabat-kerabat dulu?. Agama Islam akan dianggap tidak sempurna jika yang diutamakan orang lain, sementara saudara sendiri dilupakan. Kalau demikian halnya, dapat kita bayangkan apa anggapan saudaranya dan orang lain terhadap Islam bila kerabatnya dilupakan. Setelah karib-kerabat, kita berikan harta yang kita cintai itu kepada anak-anak yatim, jangan sampai mereka diambil oleh agama lain. Setelah anak yatim kita memberi harta kepada orang-orang miskin dan orang yang minta-minta (kepada orang yang meminta-minta, kita harus memberi dengan selektif.).

Keenam : Dan memerdekakan hamba sahaya

Sekarang hamba sahaya sudah tidak ada, yang setingkat dengan hamba sahaya sekarang ini mungkin bawahan kita, jika kita menjadi atasan, seperti pembantu atau karyawan kita. Maksud dari memerdekakan hamba sahaya yaitu dengan cara menghargai dia sebagai manusia, jangan sampai mereka merasa tertekan jiwanya. Akhir-akhir ini banyak kejadian disekeliling kita, kita menyaksikan pembantu yang disiksa, salah sedikit saja dibentak, dikata-katai dengan bahasa kotor dan sebagainya. Kita harus menyadari bahwasannya merekapun adalah makhluk Allah, ciptaan Allah yang sama dengan kita. Kita seharusnya bersyukur dan berkata kepada diri kita sendiri: “Alhamdulillah saya ditakdirkan menjadi orang yang kaya, yang bisa menggaji dia untuk bekerja kepada saya.

Oleh karena itu rasa syukur kita wujudkan dengan cara menyayangi mereka, memperhatikan nasib mereka. Jika mereka buta huruf, kita didik mereka supaya pandai membaca dan menulis. Jika mereka kurang berpendidikan agama , kita ajari mereka cara membaca Al Qur’an, sebab merekapun makhluk Allah. Merekapun mempunyai kewajiban untuk beribadah kepada Allah, jangan kita biarkan mereka celaka dunia dan akhirat. Waktu shalat kita perhatikan, jangan sampai kita memelihara shalat kita sendiri tetapi pembantu dilarang shalat karena alasan kerja. Kita harus mampu menyelamatkan mereka karena ciri seorang mukmin menurut sabda rasul adalah sebagai berikut :

“ciri orang yang beriman adalah yang mampu menyelamatkan mukmin yang lain dengan lidah dan tangan kita.”

Menyelamatkan mukmin yang lain dengan lidah kita, yaitu dengan cara menasehati dan mengajari mereka dengan ilmu agama atau ilmu pengetahuan umum. Menyelamatkan mukmin yang lain dengan perbuatan kita yaitu dengan cara memberikan contoh yang baik kepada para karyawan dan bawahan kita.

Ketujuh : Mendirikan shalat

Didalam surat ini dikatakan yang mendirikan shalat, bukan hanya melaksanakan shalat. Ketika shalat kita tidak pernah berbohong, maka setelah shalat pun jangan berbohong. Itulah makna mendirikan shalat,. ketika shalat kita tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak berguna, maka setelah shalat pun jangan melakukan hal-hal yang tidak berguna seperti jahil, mengambil hak orang. Waktu shalat adalah pembaktian kepada Allah, maka setelah shalatpun selalu yang diingat adalah pembaktian kepada Allah.

Melaksanakan Shalat adalah melaksanakan perintah Allah, ketika selesai shalatpun haruslah kita mengingat perintah-perintah Allah untuk dilaksanakan. Itulah salah satu ciri tawakal.

Shalat adalah salah satu dari Rukun Islam yang merupakan satu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan walaupun dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan ataupun hal lainnya.

Sabda Rasul : “Shalat itu adalah tiangnya agama”. (Asholaatu imaduddin)

Bila seseorang sudah meninggalkan shalat, maka ia dinilai “kufur”. Hal ini ditegaskan Nabi Saw dalam sabdanya;

“Antara seorang hamba dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. (HR. Muslim)

Nabi Saw tidak menshalatkan orang yang mati yang ketika hidupnya tidak shalat. Di akhirat nanti Allah Swt berfirman tentang keadaan orang yang berdosa:

“Apakah yang menyebabkan kamu masuk neraka saqar?”. Mereka menjawab;”kami dahulu termasuk orang-orang yang meninggalkan shalat”.

(Qs. Al Mudatsir 41-43)

Bagi orang yang sedang safar atau dalam perjalananpun hanya ada rukshah atau kelonggaran untuk men-jama atau meng-qashar shalat. Demikian juga bagi orang yang sakit hanya ada kelonggaran dalam rukun shalat, seperti shalat yang mestinya berdiri tapi karena tidak mampu, maka boleh dilakukan sambil duduk atau berbaring. Bahkan orang yang sedang berperang sekalipun tidak boleh meninggalkan shalat, yaitu dengan adanya shalat khauf.

Shalat yang lima waktu tersebut jangan sampai ditinggalkan, misalnya shalat Ashar dengan alasan sibuk bekerja, rapat, pesta dsb, maka kita akan mendapat peringatan dari Nabi Saw:

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja, maka hancur segala (pahala) amalnya”.

Dalam riwayat lain diterangkan,

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat Ashar, ia seperti orang yang dirampok hartanya dan diculik keluarganya (tidak punya apa-apa)”. (HR. Bukhari)

“Sedangkan bagi orang yang tertidur atau yang terlupa shalat, maka hendaknya ia melaksanakan shalat pada saat ia bangun atau pada saat ia ingat”. (HR. Bukhari Muslim)

Akan tetapi mengapa Allah mengatakan dalam Qs. Al Maa’uun 4

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat”.

Ayat ini tentu saja merupakan sebuah peringatan bagi orang yang shalat, bahwa shalat itu tidak sekedar dilaksanakan. Kita sering mendengar peryataan-pernyataan; jangan terlalu mempermasalahkan soal sepele dan furuiyyat, seperti shalat pakai qunut atau tidak pakai, hal tersebut jangan dipermasalahkan. Yang harus dipermasalahkan adalah orang yang tidak mau shalat.

Pernyataan seperti itu tentu sulit diterima seluruhnya, sebab berdasarkan peringatan Allah dalam QS. Al Maa’uun ayat 4 tersebut, ternyata bukan hanya orang-orang yang tidak shalat yang celaka, tetapi orang yang biasa shalatpun bisa celaka.

Ada dua variable yang menjadi penyebab orang yang shalat bisa celaka, yakni yura’un (riya) dan sahun (lalai).

Riya yang oleh Nabi Saw disebut dengan syirik al ashgar (syirik kecil) adalah kebalikan dari ikhlas. Riya merupakan variable pertama penyebab tidak diterimanya shalat seseorang, sebab tidak ada satu amalpun yang diterima oleh Allah tanpa keikhlasan.

Allah berfirman:

“Dan jika kamu berbuat syirik, maka terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (Az Zumar 65)

Nabi Saw juga mengingatkan:

“Janganlah kamu campuradukkan antara ketaatan kepada Allah dengan keinginan untuk mendapat pujian manusia, nanti hancur amalmu”.

(HR. Ibnu Hibban)

Firman Allah dalam QS. Al Bayyinah ayat 5

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat…”

Lurus berarti jauh dari syirik dan jauh dari kesesatan.

Variable kedua adalah sahun, yang bisa bermakna lalai. Ketika seseorang sedang melaksanakan shalat, pikiran dan hatinya tidak konsentrasi (tidak khusyu), ia tidak sadar bahwa ia sedang shalat, hal itu karena godaan syetan pada dirinya.

Nabi Saw mengingatkan:

“Apabila dikumandangkan adzan, syetan lari terbirit-birit bahkan terkentut-kentut sampai ia tidak mendengar adzan itu. Apabila adzan selesai syetan datang lagi dan apabila dikumandangkan iqamat, syetan lari lagi dan apabila selesai iqamat, syetan datang lagi dan menyelinap kedalam jiwa manusia dan berkata:”Ingatlah kamu kesana, ingatlah kamu kesini”, sehingga orang itu tidak tahu lagi berapa rakaat ia shalat”. (HR. Bukhari)

Sahun juga bisa bermakna melalaikan aturan tata laksana shalat, tidak mengikuti contoh yang ditunjukkan oleh Nabi Saw. Sebagaimana yang diintruksikannya,

“Shalatlah kamu seperti kalian mendapatkan aku shalat”. (HR. Bukhari)

Tidak sedikit orang yang hanya berprinsip dalam soal niat “yang penting ibadah itu ikhlas”, tanpa mau memperhatikan atau mempedulikan masalah kaifiyyat. Masalah kaifiyyat shalat sering dianggap sepele, padahal Allah Swt telah mengingatkan kita dalam firman-Nya,

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih”. (Qs. An Nur 63)

Nabi juga mengingatkan dalam sabdanya,

“Hendaklah kamu takut jika kamu mengangkat kepala mendahului imam, Allah akan mewujudkannya di akhirat sebagai keledai”. (HR. Bukhari)

Hadits ini memberi peringatan kepada kita, bahwa meskipun seseorang melaksanakan shalat berjamaah yang nilainya jelas lebih utama daripada shalat munfarid/sendiri tetapi kalau ia tidak mengikuti kaifiyyat shalat berjamaah menurut petunjuk Nabi Saw, bahwa imam itu mestinya diikuti jangan didahului, di akhirat nanti bisa menjadi manusia yang merugi!.

Shalat merupakan ibadah yang pertama kali dihisab di akhirat kelak, Sabda Rasul Saw; “Awwalu maa yuhaasabul abda alaihi ashshalatu”

Shalat juga bisa dijadikan barometer amal-amal yang lain. Khalifah Umar Ibnu Al Khatab diriwayatkan pernah mengirim surat kepada para gubernur yang diangkatnya. Didalam pesannya umar menyatakan:

“Sesungguhnya tugas kalian sebagai gubernur yang paling utama di mataku adalah shalat. Barangsiapa memelihara shalat, berarti ia telah memelihara agamanya, barangsiapa lalai terhadap shalat, terhadap urusan yang lain akan lebih lalai”.

Shalat yang baik dan benar dijanjikan Allah dan Rasul-Nya akan menjadi penghapus atas segala dosanya. Allah berfirman,

“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada permulaan malam, sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk”. (Qs. Hud 114)

Dalam sebuah dialog dengan para sahabatnya, Nabi Saw mengumpamakan shalat yang lima waktu seperti mandi lima kali.

Nabi Saw bertanya:”Bagaimana pandanganmu jika pintu rumah salah seorang diantara kamu ada sumur, lalu mandi sehari 5x, bagaimana kotoran di badan orang itu?”, para sahabat menjawab:”Tidak akan tersisa kotoran itu sedikitpun”.

Nabi Saw bersabda:”Demikian juga perumpamaan shalat yang lima waktu, Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya”. (HR. Bukhari)

Namun mandi yang bagaimana yang akan mempu membersihkan kotoran di badan itu?, jika mandinya tidak bersabun, tidak menggosok-gosok badan, bahkan airnya diobok-obok dibuat keruh, tentu hal itu bukan membersihkan kotoran di badan. Demikian juga halnya shalat, jika dilaksanakan dengan riya atau tidak ikhlas, tidak khusyu, tidak benar, apalagi dicampur dengan perbuatan bid’ah, tentu shalat itu tidak akan menjadi penghapus dosa, tetapi sebaliknya akan menambah dosa.

Oleh karena itu usahakan shalat kita betul-betul mengikuti (mencontoh) shalatnya Rasulullah Saw dan dilaksanakan dengan penuh keikhlasan serta kekhusyuan. Jadikanlah shalat itu sebagai kebutuhan kita dalam hidup ini. Oleh sebab itu mari kita bersama-sama memeriksa lagi shalat kita masing-masing. Apakah shalat kita sudah sesuai belum dengan shalat Rasul, supaya shalat kita betul-betul menjadi tiangnya agama serta nanti kalau dihisab mendapat hisaban yasiro / hisaban yang enteng.

Sabda Rasulullah Saw: Idzaa quntum ilashalaati fasbigghil wudlu tsummastaqbalil qiblata fakabbir.

“Apabila engkau mau berdiri shalat, hendaklah engkau sempurnakan wudlu, kemudian engkau menghadap kiblat, lalu engkau takbir”. (HR. Muslim)

Dengan hadits ini jelas bahwa syarat shalat adalah wudlu yang benar.

Setelah selesai wudlu, mulailah kita shalat dengan berdiri menghadap kiblat.

Kedelapan : Menunaikan zakat

Zakat bukan hanya di bulan ramadhan saja, kita harus meneliti dan memeriksa harta yang kita punya, mungkin saja harta kita perlu untuk dizakati.

Kesembilan : menepati janji apabilla berjanji

Kita harus mengingat dan menepati janji kita, bila kita hendak berjanji kita harus memperhitungkan apakah kita mampu menepati janji kita. Sekiranya kita tidak mampu menepati janji, janganlah kita membuat perjanjian karena itu akan menjadi kebiasaan bagi kita untuk ingkar janji dan akhirnya celakah diri kita.

Kesepuluh : Dan orang-orang yang sabar

Kita harus sabar menerima bahwa segala sesuatu yang menimpa kita, sesuatu yang kita alami, datangnya dari Allah, baik itu kesempitan dalam harta atau hal yang lainnya.

Sabar dalam menghadapi penderitaan, apapun penderitaan yang menimpa diri kita itu datangnya dari Allah. Kita harus menjiwa “Innalillahi wa inna ilahiroojiun.” Semua datangnya dari Allah dan akan kembali kepada Allah, Insya Allah keimanan kita tidak akan berkurang melainkan akan meningkat terus. Begitu juga orang-orang yang sabar dalam peperangan, apabila dalam peperangan maka kita pun harus bersabar, sehingga Allah berfirman: “mereka itulah yang benar-benar imannya”.

Dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa

Orang-orang yang benar imannya sekaligus menjadi orang yang bertakwa, artinya orang itu telah melaksanakan isi dari Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 177, orang itu akan masuk syurga atau calon ahli syurga.

Setelah mengkaji QS. Al Baqarah 177, bukan hanya sekedar iman saja tetapi melaksanakan segala perintah Allah dan kewajiban-kewajiban yang ada di dalam Al Qur’an. Kalau sudah demikian halnya barulah dikatakan iman yang sebenar-benarnya. Janganlah kita meniru iblis yang percaya kepada Allah, tetapi ia membangkang kepada perintah-perintah Nya, kelakuan seperti itu bukanlah iman melainkan murtad.

Mudah-mudahan kita mendapat bimbingan dari Allah Sw dan menjadi orang yang benar dalam keimanan serta menjadi orang yang bertaqwa, aamiin.

By ; Admin

Iklan

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: